Selasa, 14 September 2021

pelatihan pemanfaatan lahan pekarangan dalam menunjang perekonomian masyarakat

 


Kebutuhan akan sayuran sebenarnya bisa diusahakan sendiri oleh masyarakat dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk bercocok tanam dengan memanfaatkan waktu luang sepulang bekerja atau waktu libur, dengan menggunakan curahan waktu tertentu dan teknologi yang digunakan kebutuhan akan sayuran bisa dipenuhi secara mandiri, tentunya dengan kualitas yang diinginkan.

Rumah yang pekarangannya sempit atau tidak punya pekarangan diintroduksikan inovasi teknologi budidaya tanaman dalam polybag secara vertikultur untuk mengatasi keterbatasan luas lahan pekarangan, terutama di perkotaan seperti di komplek-komplek perumahan, rusun (rumah susun), dan kawasan padat penduduk.

Selain inovasi teknologi budidaya tanaman dalam polybag teknologi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah penggunaan teknologi hidroponik. Teknologi hidroponik merupakan metode bercocok tanam tanpa tanah, tetapi menggunakan larutan nutrisi sebagai sumber. Teknologi hidroponik ini memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan teknik bertanam secara tradisional. Keunggulan hidroponik antara lain ramah lingkungan, produk yang dihasilkan higienis, pertumbuhan tanaman lebih cepat, kualitas hasil tanaman dapat terjaga, dan kuantitas dapat lebih meningkat. Sayuran yang diproduksi dengan sistem hidroponik juga menjadi lebih sehat karena terbebas dari kontaminasi logam berat industri yang ada di dalam tanah, segar dan tahan lama serta mudah dicerna.

Kegiatan pelatihan pemanfaatan lahan pekarangan yang dilaksanakan di Kelurahan Benteng Selatan Kecamatan Benteng bertujuan memanfaatkan pekarangan rumah dengan berbagai macam tanaman dengan teknik hidroponik maupun menanam dalam polybag, sehingga kebutuhan pangan dan gizi keluarga bisa terpenuhi, serta meningkatkan pendapatan keluarga dengan menjual tanaman hasil budidaya.

Sasaran dari kegiatan pelatihan pemanfaatan lahan pekarangan kepada masyarakat ini adalah anggota kelompok wanita tani dan Dasawisma. Selain itu diharapkan nantinya ini bisa mendifusikan atau menyebarluaskan kembali ke masyarakat lainnya.



Metode yang digunakan dalam melaksanakan pelatihan pemanfaatan lahan pekarangan ini yaitu metode penyuluhan tatap muka untuk menyampaikan informasi teknologi kepada anggota kelompok kemudian dilakukan kunjungan lapangan untuk melakukan pelatihan keterampilan. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan di Aula Kantor Kelurahan Benteng Selatan Kecamatan Benteng.

Penyuluhan tatap muka untuk menyampaikan informasi teknologi kepada anggota kelompok Wanita Tani dan Dasawisma. Kegiatan penyuluhan berjalan dengan lancar dengan pemaparan materi yang dikemas dalam presentasi yang interaktif.

 

Materi penyuluhan sebagai berikut:

Penyuluhan Pemanfaatan Lahan Pekarangan dengan Media Tanam Polybag

Siapkan pot dan polibag atau wadah lainnya seperti ember plastik atau kaleng bekas. Lubangi bagian kiri, kanan dan bawah 4-5 buah untuk mengalirkan kelebihan air. Dengan demikian sayuran tidak akan tergenang. Apabila menggunakan polibag, sebaiknya polybag dibalik dahulu sebelum diisi media agar polibag dapat berdiri dengan kokoh dan tidak udah roboh. Media tanam yang digunakan berupa campuran dan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 1:1, 1:2 atau 1:3 tergantung pada kesuburan atau berat ringannya tanah.



Sayuran yang bijinya berukuran kecil, seperti selada, sawi, cabai dan tomat perlu disemai dulu agar mudah dalam pemeliharaan. Untuk tanaman bawang daun, bawang merah, dan bawang putih tidak perlu disemai, tetapi dapat langsung ditanam dalam pot atau polybag berukuran besar. Tempat persemaian dapat berupa kotak kayu polibag, pot, daun pisang, daun dracanae, atau wadah lainnya yang berdiameter 10 cm. Wadah persemaian yang belum berlubang, bagian bawahnya dibuat lubang untuk mengeluarkan air. Adapun media untuk persemaian dapat digunakan campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 1:3. Bila tanahnya terlalu berat, dapat diberi pasir. Biji atau benih ditanam pada wadah persemaian yang telah diisi media tanam dengan jarak 1-3 cm bila menggunakan wadah berupa kotak kayu. Bila menggunakan wadah persemaian yang lain, dalam satu wadah dapat ditanam 1-2 biji atau benih. Kemudian di atas biji ditabur kompos halus. Lamanya persemaian tergantung dari jenis tanaman, misalnya 2-3 minggu untuk sawi, selada dan kubis, 2 minggu untuk tomat, serta 3 minggu untuk cabai dan terung.

Penanaman sayuran dalam pot atau polibag sangatlah mudah, 1) Wadah diisi media tanam, lalu disiram atau dimasukan ke dalam air. Bila media tanamnya turun, tambahkan media tanam lagi hingga hampir penuh.2) Bila semai di tanam di polibag atau pot, buat lubang besar di wadahnya. Kemudian semai beserta medianya dikeluarkan dari polibag atau pot persemaian. Setelah itu tanam semai dan medianya dalam pot atau polibag yang telah disiapkan. 3) Bila semai ditanam dalam kotak kayu, lubang tanam dibuat dengan solet yang ditusukan sambil diputar sehingga terbentuk lubang berbentuk kerucut. Setelah itu semai diambil secara hati-hati jangan samapi akar terputus lalu ditanam. 4) Di sekitar semai diberi media lagi sambil ditekan agar semai dapat berdiri tegak.

Perawatan sayuran organik dalam pot atau polibag lebih mudah karena tanaman lebih terkontrol dan penularan penyakit lewat akar relatif kecil. Beberapa perawatan rutin yang harus dilakukan, 1) Tanaman dijaga setiap hari dari serangan hama dan penyakit. Caranya bila ada hama seperti ulat dan kutu, hama tersebut diambil dan dimatikan dengan dipijit. Apabila ada tanaman yang terserang penyakit layu, sebaiknya tanaman segera dicabut dan medianya dibuang. Wadah penanaman dapat digunakan lagi dengan media dan tanaman yang baru dan sehat. 2) Bila masih kelihatan kurang subur, tanaman dapat dipupuk dengan pupuk kandang atau kompos yang telah matang. 3) Bila tanah terlihat kering tanaman dapat disiram. 4) Untuk tanaman tomat, cabai, terung dan tanaman lain yang menghasilkan buah, perlu diberi turus agar tanaman tidak roboh saat berbuah lebat.

Umur panen tergantung dari jenis tanamannya. Tanaman tomat, terung dan cabai dapat dipanen mulai umur 3-4 bulan hingga umur 6 bulan. Tanaman bawang daun, bawang merah, sawi, selada dan kubis dapat dipanen pada umur 3-4 bulan. Selain umur panen, berat panen pun berbeda untuk setiap jenis. Misalnya, untuk tanaman tomat dapat menghasilkan 1,5-2 kg/tanaman, bawang daun menghasilkan 200 gram/rumpun, produksi kubis sekitar 1kg/tanaman, sawi dan selada sekitar 150 gram/tanaman, serta bawang merah dapat menghasilkan 100 gram/tanaman. Bila dijual bersama potnya, tanaman terung, cabai, tomat, dan tanaman sayuran buah lainnya dijual pada saat buah pertama telah siap panen  dan bunga selanjutnya telah muncul.

Penyuluhan Pemanfaatan Lahan Pekarangan Secara Hidroponik

Media tanam hidroponik bisa menggunakan arang sekam, cocopeat, rockwool ataupun zeolite. Namun pada umumnya untuk skala usaha yang menggunakan system hidroponik NFT yaitu menggunakan media tanam rockwool. Potong-potong rockwool dengan ukuran 1,5 cm x 1,5 cm, 2 cm x 2 cm atau sesuai dengan kebutuhan. Rendam media tanam dengan air biasa selama 5-15 menit, hingga benar-benar basah. Kibaskan

media tanam agar tidak terlalu berair, lalu masukan ke dalam netpot. Buat lubang di media tanam sesuai ukuran biji, lalu letakan didalamnya. Cek benih setiap hari dan pindahkan ke tempat yang terkena sinar matahari pagi jika sudah mulai bertunas, agar tidak terjadi etiolasi. Semprot bibit menggunakan air biasa pada pagi dan sore hari sampai saatnya dipindahtanamkan ke instalasi hidroponik.



Lubang tanam hidroponik telah tersedia di pipa PVC dengan jarak 20 cm x 20 cm untuk tanaman selada. Pindah tanam ke instalasi hidroponik dilakukan jika daun sejati sudah tumbuh 2-4 helai, biasanya pada umur sekitar 14 hari (Hendra, 2014). Sayuran yang dibudidayakan secara hidroponik sepenuhnya mengandalkan pasokan air dan unsur hara dari larutan nutrisi, sehingga penyiraman menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan. Pada hari pertama, bibit dipindahtanamkan ke instalasi hidroponik NFT larutan nutrisi harus sudah dialirkan. Nyalakan pompa dan atur debit sedemikian rupa sehingga larutan nutrisi mengalir melewati dasar pipa PVC sekaligus membasahi rockwool sebagai media tanam.

Dalam budidaya secara hidroponik, derajat keasaman (pH) larutan nutrisi juga harus diperhatikan. Nilai pH berkisar 0-14, pH di bawah 7 menunjukkan larutan bersifat asam, sedangkan pH di atas 7 menunjukkan larutan bersifat basa. Derajat keasaman sangat berhubungan dengan ketersediaan unsur hara dan penyerapan nutrisi oleh akar yang pada gilirannya berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Rentang pH ideal untuk tanaman hidroponik berkisar 5,5-6,5.

Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu kepekatan larutan nutrisi. Kepekatan larutan berkaitan dengan ketersediaan hara. Semakin pekat larutan maka semakin kaya unsur hara, demikian sebaliknya. Namun, bukan berarti semakin pekat semakin baik bagi tanaman, karena pada kepekatan ekstrim justru tidak baik bagi tanaman. Karena itu secara berkala, 2-3 hari sekali, kepekatan larutan harus dicek agar sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Kebutuhan nutrisi yang ideal untuk tanaman selada yaitu berkisar antara 800-900 ppm. Tingkat kepekatan larutan dinyatakan dalam satuan ppm (part per million), sedangkan alat yang dipakai untuk mengukurnya disebut TDS meter.



Panen dan Pasca Panen

Waktu panen tergantung pada pertumbuhan setiap tanaman. Semakin subur tanaman, maka semakin cepat waktu panen. Sayuran yang ditanam dengan metode hidroponik umumnya lebih cepat panen dibandingkan dengan tanaman yang ditanam di media tanah secara konvensional. Untuk tanaman selada panen biasanya dilakukan 30-45 Hari Setelah Semai (HSS). Cara panen sayuran pada sistem hidroponik biasanya dengan mencabut tanaman yang sudah siap panen dari wadah atau netpot. Setelah itu, wadah atau netpot dapat diisi kembali dengan sayuran yang baru.

 

OLEH : DATULANGI, S.ST

 

Senin, 06 September 2021

CARA PENGENDALIAN HAMA PADA TANAMAN JAGUNG

 

Kendala budidaya jagung selain faktor kesuburan tanah, yang tidak kalah pentingnya adanya serangan hama dan penyakit. Untuk mengatasi serangan hama perlu dicari alternatif pengendalian yang bersifat ramah lingkungan  Kehilangan hasil jagung oleh hama adalah 20-80%. Tanaman jagung yang terserang hama ini menjadi patah sehingga dapat menurunkan produksi bahkan kalau serangan tinggi menyebabkan kegagalan saat panen. Hama ini merusak daun, bunga jantan dan kemudian menggerek batang jagung.

Beberapa cara pengendaliannya adalah sebagai berikut :

Secara Kultur Teknis

Pengendalian hama dengan cara kultur teknis dapat dilakukan dengan pemilihan pola tanam yaitu melakukan tumpang sari antara tanaman jagung dengan kedelai atau kacang tanah. Menurut penelitian, melakukan tumpangsari antara jagung dengan kedelai atau kacang tanah dapat menekan kerusakan yang disebabkan oleh hama ini.

Selain melakukan tumpang sari, pemotongan bunga jantan juga dapat meminimalisir kerusakan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Screner dan Naf us, pemotongan bunga jantan dilakukan karena sekitar 40-70% larva berada di bunga jantan sehingga dapat menekan kerusakan yang ditimbulkan.

Agen Hayati

Pengendalian dengan agen hayati yaitu dengan penggunaan suatu makhluk hidup, baik itu predator maupun parasit. Ada beberapa parasit dalam jenis bakteri maupun jamur yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama antara lain Trichogramma, micraspis sp, dan Celonus. Parasit tersebut dapat merusak telur dari penggerek batang jagung sehingga dapat mencegah perkembangbiakannya hama ini

Selain itu, pengendalian dengan menggunakan predator seperti laba laba dari famili Argiopidae, Oxyopidae, Theriidae dan juga sejenis semut Solenopsis germinata dapat memangsa larva hama penggerek batang jagung. Hal itu dapat memutus siklus hidup hama penggerek batang jagung dan mencegah bertambahnya jumlah hama tersebut.

Pengendalian dengan agen hayati ini perlu diusahakan dengan optimal. Pengendalian ini dinilai lebih efektif dan juga mempunyai beberapa kelebihan yaitu ramah lingkungan, tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup besar, dan juga menciptakan ekosistem yang seimbang.

Pestisida

Untuk pengendalian dengan menggunakan pestisida, kita dapat menggunakan insektisida Furadan 3G yang diberikan pada pucuk sebelum berbunga atau 40 hari setelah tanam, diikuti dengan decis 2,5 EC setelah berbunga. Insektisida dengan bahan aktif monokrotofos, triazofos, dikhlorfos, dan karbofuran dianjurkan jika ditemukan 1 kelompok telur pada tanaman jagung.

Jika jagung yang ditanam menerapkan sistem organik, kita dapat melakukan penyemprotan dengan menggunakan pestisida nabati. Pestisida nabati yang digunakan adalah Dipel (Bacillus thuringiensis) yang dikombinasikan pada saat pemotongan bunga jantan yang dinilai efektif untuk mengendalikan hama ini.

Pengendalian dengan pengaturan waktu tanam

Penggerek batang jagung merupakan hama utama jagung, akibat dari serangan hama ini tanaman jagung menjadi patah sehingga dapat menurunkan produksil bahkan kalau serangan tinggi menyebabkan kegagalan panen. Salah satu cara pengendalian yang aman, mudah dan murah yaitu dengan teknik pengaturan waktu tanam. Dimana jagung yang ditanam pada awal mulai musim hujan (1-4 minggu) dapat terhindar dari serangan penggerek batang.  Hal ini diduga bahwa pada minggu kelima dan seterusnya dimana pada saat ini keadaan curuh hujan tinggi, sangat mendukung perkembangan dari hama-hama jagung. Menurut Kalshoven (1981), tingginya curah hujan akan meningkatkan kelembaban udara dan kondisi semacam ini sangat sesuai atau mendukung terjadinya perkembangan hama. Menurut Asikin dan Thamrin (1995), tanam pada awal musim hujan (Oktober-Nopember) yaitu 1-4 minggu setelah mulai musim hujan dapat menekan intensitas serangan penggerek batang jagung di lahan kering beriklim basah


OLEH : ZUBAIR, S.ST

Minggu, 05 September 2021

PANEN DAN PASCA PANEN CENGKEH

 

Tanaman cengkeh untuk dapat  tumbuh dan berproduksi memerlukan persyaratan lingkungan tumbuh yang spesifik. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap tanaman cengkeh antara lain adalah iklim, tinggi tempat dan jenis tanah.

Panen adalah suatu proses akhir dan tindakan manusia dalam hal budidaya tanaman dimana pertumbuhan tanaman biasanya akan terjadi perubahan secara fisiologis maupun morfologi dari tanaman tersebut (Setyono, 2001). Panen adalah pekerjaan budidaya tanaman (bercocok tanam) dengan mengumpulkan komoditas dari lahan penanaman, pada taraf kematangan yang tepat dengan kerusakan minimal, dilakukan secepat mungkin dan dengan biaya rendah (Anonim, 2012).

Perbedaan tingkat pemasakan bunga, waktu panen, tepatnya waktu pemetikan dan teknik pengolahan hasil akan menyebabkan kualitas hasil yang berbeda pula. Sedang di daerah penghasil cengkeh yang musim kemaraunya bersamaan, tetapi berlainan lokasinya, maka musim panennya juga berbeda. Juga pengaruh pola hujan, temperatur dan tinggi tempat pertanaman akan membawa pengaruh yang berbeda pula. Oleh karena itu, pemetikan harus dilakukan pada tingkat kemasakan yang tepat yakni pada waktu bunga berwarna pucat yang sebelumnya itu berwarna hijau, kemudian menguning akhirnya keunguan muda dan merah tua. Saat yang paling bagus adalah pada saat kepala buah yang terdiri dari mahkota bunga masih tertutup dan bundar bentuknya, berisi dan mengkilat. Apabila bunga itu warnanya menjadi merah muda berarti sebentar lagi akan membuka.

Pengelolaan panen bunga cengkih bertujuan untuk menjaga kualitas panen yang dihasilkan. Hasil panen yang tidak dikelola dengan baik akan menurunkan kuantitas dan kulitas panen. Pengelolaan yang dilakukan diantaranya agar tidak terjadi kehilangan massa bunga, seperti bunga yang rusak ataupun rontok pada saat pemetikan ataupun pengangkutan. Hasil panen terbaik diperoleh jika bunga berada pada masa petiknya, oleh karena itu diperlukan pengelolaan panen untuk menentukan waktu petik yang tepat.

            Pasca panen Penanganan pasca panen adalah tahapan yang dimulai sejak pemungutan hasil pertanian yang meliputi hasil tanaman pangan, hortikultura, perkebunan sampai siap dipasarkan (Soemardi, 1986). Penanganan pasca panen diartikan sebagai berbagai tindakan/perlakuan yang diberikan pada hasil pertanian setelah panen sampai komoditas berada di tangan konsumen (Purwadaria, 1994). Harvest handing/past harvest commony reffered to as primary treatment (primary processing).

Penanganan pasca panen sering disebut juga sebagai pengolahan primer istilah yang digunakan untuk semua perlakuan dari mulai panen sampai komoditas dapat dikonsumsi. Berbagai tindakan/perlakuan yang diberikan pada hasil pertanian setelah panen sampai komoditas berada ditangan konsumen (Purwadaria, 1994)

Sebelum dikeringkan, bunga cengkeh dipisahkan dari tangkai atau gagang dan dikeringkan secara terpisah.Pada tahap ini dilakukan pemisahan antara bunga cengkeh yang baik, bunga yang terlalu tua dan yang terjatuh, setelah itu bunga cengkeh dikeringkan. Pengeringan dapat dilakukan dengan menjemurnya di bawah sinar matahari langsung atau menggunakan pengering buatan.

Bunga cengkeh yang akan dijemur dihamparkan pada alas tikar,anyaman bamboo gribig, atau plastik, atau pada lantai jemur yang diberi alas plastic.Selama proses pengeringan, cengkeh dibolak balik agar keringnya merata.proses pengeringan dianggap selesai apabila warna bunga cengkeh telah berubah menjadi coklat kemerahan,mengkilat, mudah dipatahkan dengan jari tangan dan kadar air telah mencapai sekitar 10 – 12 %.

Lamanya waktu penjemuran dibawah sinar mataharisekitar 3 – 4 hari.Cengkeh yang telah kering kalau disimpan tidak akan susut beratnya dan tahan lama asalkan tidak terkena air.

Kualitas cengkeh dapat dibedakan dan dinilai menurut:                    

a.   Kekeringannya

b. Persentase kotoran (tangkai bunga dan daun-daun)    

c. Persentase yang tidak berkepala (sudah banyak yang mekar)                

d.   Persentase yang muda

e.   Warnanya


OLEH : ZUBAIR, S.ST

Minggu, 29 Agustus 2021

Cara Perbanyak Tanaman Pisang

 


1.    Membuat Bibit Pisang dengan Teknologi Kultur Jaringan

Apa itu kultur jaringan? Apa yang dimaksud dengan kultur jaringan? Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap kembali. Teknik kultur jaringan memanfaatkan prinsip perbanyakan tumbuhan secara vegetatif. Berbeda dari teknik perbanyakan tumbuhan secara konvensional, teknik kultur jaringan dilakukan dalam kondisi aseptik di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu. Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro. Dikatakan in vitro (bahasa Latin), berarti “di dalam kaca” karena jaringan tersebut dibiakkan di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu (wikipedia).

Kultur jaringan adalah suatu metode untuk memisahkan/mengisolasi bagian dari tanaman seperti sel, jaringan atau organ (daun, akar, batang, tunas dan sebagainya) serta membudidayakannya dalam lingkungan yang terkendali [secara in vitro] dan aseptik sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri/beregenerasi menjadi tanaman lengkap.

Teknik kultur jaringan berkembang dari adanya teori totipotensi sel oleh Schwann dan Schleiden, tahun 1838 yang menyatakan didalam masing-masing sel tumbuhan mengandung informasi genetik dan sarana fisiologis tertentu yang mampu membentuk tanaman lengkap bila ditempatkan dalam lingkungan yang sesuai.

Kelebihan kultur jaringan dibandingkan dengan perbanyakan bibit secara konvensional adalah; perbanyakan bibit dapat dilakukan dengan cepat dan dalam skala banyak, kontinuitas ketersediaan bibit akan terjaga sepanjang waktu, tanpa harus menunggu musim berbuah, bibit yang dihasilkan akan sama dengan induknya, tingkat keseragaman pertumbuhan bibit di lapangan tinggi, hemat biaya pengiriman/transportasi, dan bebas hama penyakit.

Kelemahan kultur jaringan antara lain; Membutuhkan biaya operasional dan fasilitas produksi yang mahal, membutuhkan tenaga kerja yang khusus dan terampil, dan harga bibit kultur jaringan lebih mahal.

Kegunaan Kultur Jaringan

Selain untuk perbanyakan bibit unggul, kegunaan kultur jaringan di bidang lainnya, yaitu:

1.   Dibidang pemuliaan tanaman untuk meningkatkan keragaman genetik, seperti induksi variasi somaklonal, induksi mutasi.

2.   Dibidang bioteknologi tanaman, teknik kultur jaringan sangat diperlukan untuk meregenerasikan sel tanaman yang telah direkayasa genetiknya menjadi tanaman transgenik.  

3.   Dibidang pengendalian penyakit tanaman, kultur jaringan dapat menghasilkan tanaman yang bebas patogen yaitu melalui kultur meristem.

4.   Dibidang konservasi, dapat digunakan untuk memperbanyak tanaman yang hampir punah, atau untuk penyimpanan plasma nutfah.




2.    Cara Membuat Bibit Pisang Dengan Anakan Pedang

Perbanyakan tanaman pisang atau pembibitan tanaman pisang melalui anakan adalah perbanyakan yang dilakukan dengan memisahkan anakan pisang dari induknya, cara ini adalah yang paling mudah dalam membuat bibit pisang dan paling banyak dilakukan oleh masyarakat. Bibit pisang yang diperoleh dengan cara ini harus segera ditanam kelahan. Berikut ini cara membuat bibit pisang melalui anakan :

a).    Bahan yang paling baik digunakan adalah anakan pedang (tinggi 41-100 cm), daunnya berbentuk seperti pedang dengan ujung runcing. Anakan rebung (20-40 cm) kurang baik jika ditanam langsung karena bonggolnya masih lunak dan belum berdaun sehingga mudah kekeringan. Sedangkan anakan dewasa (tinggi >100 cm) terlalu berat dalam pengangkutan dan kurang tahan terhadap cekaman lingkungan karena telah memiliki daun sempurna.

b).    Bibit anakan setelah dipisahkan harus segera ditanam, jika terlambat akan meningkatkan serangan hama penggerek dan kematian di kebun. Apabila pada saat tanam kekurangan air dalam waktu yang cukup lama, bibit akan layu dan mati bagian batangnya, tetapi bonggol yang tertimbun dalam tanah masih mampu untuk tumbuh dan memulai pertumbuhan kembali membentuk bonggol baru diatas bonggol yang lama.

c).    Untuk menghindari kejadian tersebut, sebelum menanam anakan dipotong 5 cm diatas leher bonggol dan cara menanamnya ditimbun 5 cm dibawah permukaan tanah

3.  Perbanyakan dengan system belah bonggol (Bit Anakan/Mini Bit)

Cara perbanyakan benih pisang konvensional belahan bonggol (bit) – Kunci sukses dalam melakukan budidaya tanaman buah pada kususnya budidaya pisang adalah kualitas bibit / benih yang digunakan. Dengan bibit yang sehat dan berkualitas tentu saja akan menghasilkan buah yang berkualitas dan menekan kematian tanaman. Cara ini merupakan salah satu teknik yang paling mudah dan murah dalam memperbanyak bibit pohon pisang adalah dengan teknik belah bonggiol (Bit). Dengan teknik ini pembibitan pohon pisang dapat menghasilkan bibit yang banyak dan cepat dan sangat efektif dibandingkan teknik lainya. Dari poses pembibitan hingga bibit pohon pisang siap ditanam hanya membuthkan waktu kurang lebih 3 bulan saja.

Berikut ini Prosedur perbanyakan benih tanaman pisang dengan menggunakan bonggol sebagai sumber perbanyakan :

  • Pilihlah anakan pisang dengan bonggol berukuran 15 cm hingga 20 cm dari tanaman induk yang sehat dan berproduksi tinggi serta mutunya bagus. 
  • Potong anakan pisang lebih kurang 5 cm diatas bonggol dan kemudian buang semua bekas pelepah daun pisang. 
  • Buatlah lubang dengan kedalaman 4 cm dan berdiameter 2 cm tepat di bagian tengah bonggol. 
  • Tunas-tunas yang tumbuh dari bonggol yang diperlakukan merupakan G-2S (generasi kedua). 
  • 3 bulan setelah tumbuh bonggol G-3S) (generasi ketiga) tunas telah berukuran lebih kurang 15 cm dan sudah bisa diperlakukan lagi seperti pada anakan generasi pertama dengan cara dipotong batangnya dan dibuang tunasnya, hal tersebut bertujuan untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas yang baru. 


OLEH : ZUBAIR, S.ST

Rabu, 25 Agustus 2021

Penumbuhan dan Pengembangan Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA)

 


Pendahuluan

Dalam rangka mengoptimalkan peran dan fungsi kelembagaan yang ada di perdesaan, khususnya kelembagaan usaha yang bergerak di bidang jasa alat dan mesin pertanian (alsintan), maka pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor 25/Permentan/PL.130/5/2008 tanggal 22 Mei 2008 tentang Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA).

Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian yang selanjutnya disebut UPJA adalah suatu lembaga ekonomi perdesaan yang bergerak di bidang pelayanan jasa dalam rangka optimalisasi penggunaan alat dan mesin pertanian untuk mendapatkan keuntungan usaha baik di dalam maupun di luar kelompok tani/gapoktan.

Sedangkan fungsi utama kelembagaan UPJA yaitu melakukan kegiatan ekonomi dalam bentuk pelayanan jasa alsintan dalam penanganan budidaya seperti jasa penyiapan lahan dan pengolahan tanah, pemberian air irigasi, penanaman, pemeliharaan; perlindungan tanaman termasuk pengendalian kebakaran; maupun kegiatan panen, pasca panen dan pengolahan hasil pertanian seperti jasa pemanenan, perontokan, pengeringan dan penggilingan padi; termasuk mendorong pengembangan produk dalam rangka peningkatan nilai tambah, perluasan pasar, daya saing dan perbaikan kesejahteraan petani.

Keberadaan UPJA didaerah sentra produksi tidak saja menjadi solusi dalam mengatasi kebutuhan alsintan bagi petani untuk mengolah lahan pertanian, pengairan, panen dan pasca panen, tetapi juga menjadi solusi dalam mengatasi kelangkaan tenaga kerja di perdesaan. Strategi pengembangan alsintanmelaluisistem kelembagaan UPJA, dengan pertimbangan : (1) Kemampuan petani dalam mengolah lahan usahatani terbatas (0,5 ha/MT); (2) Pengelolaan Alsintan secara perorangan kurang efisien; (3) Tingkat pendidikan dan ketrampilan petani yang rendah; (4) Kemampuan permodalan usahatani yang lemah; dan (5) pengelolaan usahatani yang tidak efisien.

Sedangkan fungsi utama kelembagaan UPJA yaitu melakukan kegiatan ekonomi dalam bentuk pelayanan jasa alsintan dalam penanganan budidaya seperti jasa penyiapan lahan dan pengolahan tanah, pemberian air irigasi, penanaman, pemeliharaan; perlindungan tanaman termasuk pengendalian kebakaran; maupun kegiatan panen, pasca panen dan pengolahan hasil pertanian seperti jasa pemanenan, perontokan, pengeringan dan penggilingan padi; termasuk mendorong pengembangan produk dalam rangka peningkatan nilai tambah, perluasan pasar, daya saing dan perbaikan kesejahteraan petani.

Pola Pengembangan UPJA

Peralatan dan mesin pertanian (seperti traktor pengolah tanah, perontok padi/gabah, pompa air, dan penggilingan) merupakan bagian dari faktor produksi usaha pertanian di perdesaan, khususnya padi sawah, yang telah lama dikenal dan sangat dibutuhkan masyarakat perdesaan. Peralatan dan mesin pertanian dengan bahan bakar bensin dan solar merupakan hasil kemajuan industri yang mendorong kemajuan pertanian tradisional di perdesaan. Penggunaan alsin pada pertanian padi sawah di perdesaan bukan saja dilatarbelakangi oleh alasan peningkatan efisiensi usaha ekonomi.

Peralatan pertanian mekanis lainnya, seperti traktor tangan (untuk pengolahan tanah), thresher, dan pompa air, pada akhirnya telah menjadi kebutuhan petani untuk mengoptimalkan pengelolaan lahan usahatani padi sawah. Secara umum dapat dikatakan bahwa kecenderungan penggantian peralatan dari manual ke mekanis di bidang usaha pertanian tidak dapat dihindari lagi karena alasan teknis (luasnya lahan sawah) ekonomi. Penggunaan peralatan mekanis dapat dijadikan sebagai salah satu indikator tingkat kemajuan sistem pertanian di suatu wilayah atau daerah.

Kelembagaan Upja

Berdasarkan tingkat kemampuannya, UPJA dapat dibagi menjadi tiga kelas (Direktorat Alat dan Mesin Pertanian, 2011), yaitu: (1) UPJA Pemula, yaitu kelompok UPJA yang belum berkembang karena hanya memiliki jumlah alsin pertanian 1-4 unit dengan 1-2 jenis alsin pertanian (6.538 UPJA); (2) UPJA Berkembang, yaitu kelompok UPJA yang telah berkembang dengan jumlah alsin pertanian 5-9 unit dengan 3-4 jenis alsin pertanian dan telah memiliki sistem organisasi lengkap (2.344 UPJA); dan (3) UPJA Profesional, yaitu kelompok UPJA yang telah optimal dan telah memiliki alsin pertanian lebih dari 10 unit dengan lebih dari 5 jenis alsin pertanian (892 UPJA). Walaupun sudah lebih dari satu dasawarsa sejak program UPJA diimplementasikan, belum ada pemahaman yang sama oleh berbagai pihak terkait mengenai pengertian tentang UPJA sendiri. Perbedaan ini membawa implikasi pada kegiatan pembinaan dan data yang didokumentasikan oleh dinas (Dinas Pertanian setempat).

Tujuan akhir dari introduksi UPJA adalah keberadaan UPJA yang profesional. Namun jika melihat data yang ada, proporsi UPJA pemula masih sangat dominan, sedangkan UPJA Profesional kurang dari 1 persen dari seluruh jumlah yang ada. Ditambah dengan perubahan status kemampuan dari kelas pemula ke kelas berkembang atau dari kelas berkembang ke kelas profesional yang sangat lambat, kondisi ini menunjukkan ada permasalahan dalam penumbuhan dan pengembangan kelembagaan UPJA. Kelembagaan UPJA didukung oleh berbagai pelaku dengan posisi dan peran yang berbeda-beda, demikian pula kekuatan tawarnya dalam menentukan aturan main yang berlaku. Oleh karena itu, permasalahan yang ada dalam kelembagaan UPJA perlu ditelusuri pada masing-masing elemen kelembagaan tersebut.

Keberadaan UPJA oleh anggota dan pengurus lebih dipandang sebagai sarana untuk sekedar memperlancar aktivitas usahatani. Jika lahannya sudah terolah dengan baik atau sudah cukup terairi atau hasilnya sudah dipanen sesuai dengan keinginan anggota dan pengurus UPJA, maka dianggap bahwa keberadaan UPJA sudah berfungsi sebagaimana seharusnya. Pengurus dan anggota UPJA umumnya kurang memikirkan apakah UPJA memperoleh keuntungan dengan aktivitas melayani berbagai pekerjaan di usahatani mereka, apakah hasil dan keuntungan yang diperoleh mampu digunakan untuk merawat peralatan yang ada dengan baik dan bahkan mengembangkannya. Perhatian utama masih pada penyelesaian pekerjaan usahatani, belum pada UPJA sebagai suatu usaha/bisnis. Kondisi seperti itu terutama terjadi pada UPJA yang merupakan bagian dari kelompok tani/gapoktan.

Dari hasil rapat koordinasi tingkat penyuluh pertaninan di BPP Benteng Bontoharu telah disepakati Desa Kalepadang sebagai Desa pertama yang ditunjuk untuk pembetukan kelembagaan UPJA di wilayah binaan BPP Benteng Bontoharu.

Hari ini rabu 25 Agustus 2021, Pemerintah Desa Kalepadang Kec. Bontoharu melaksanakan pembentukan kelembagaan UPJA. Acara ini dibuka langsung oleh Kepala Desa Kalepadang. Turut hadir dalam acara tersebut Sekertaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Kepulauan Selayar, (Agus Salim, SP), Pembina Wilayah Kec. Benteng Bontoharu (Datulangi, S.ST),  Koorditar BPP Benteng Bontoharu (Umi Azimar) serta PPL Desa Kalepadang (Jubair, A.Md).Dalam sambutannya Agus Salim, SP menjelaskan secara singkat peran dan fungsi kelembagaan UPJA yang akan dibentuk nantinya. Salah satunya adalah bagaimana menginventarisir dan memanfaatkan bantuan-bantuan alsintan yang telah masuk di Desa kalepadang.

Memasuki sesi diskusi yang berlangsung alot dipandu oleh Umi Azimar peserta yang hadir telah menyepakati untuk nama UPJA adalah KARESO BERSAMA.




PENULIS : DATULANGI, S.ST


Sumber : 

https://media.neliti.com/media/publications/55579-ID-pola pengembangan-kelembagaan-upja-untuk.pdf

https://www.yumpu.com/id/document/view/15364985/pedoman-teknis-pengembangan-upja-mandiri




Sabtu, 21 Agustus 2021

MATERI PERSENTASE

Materi persentase ujian kompetensi kenaikan jenjang jabatan Madya 

DOWNLOAD https://docs.google.com/presentation/d/1vy8uWdU3R-SHvW8XlAEHLaPh--s8XDfPZ0Fr8hoteKk/edit#slide=id.p1

PEMANFAATAN SARANA DIGITAL BPP BENTENG BONTOHARU SEBAGAI MEDIA PENYULUHAN

  Perkembangan teknologi di era digitalisasi 4.0 menuntut penyuluh pertanian untuk memiliki kemampuan Internet of Things (IOT), Teknologi 3D...